Media dan Konflik Keagamaan : Media & Agama
- Media sebagai interlocutor
- Media sebagai window on event and experience
- Media sebagai a mirror of event in society and the world, implying a faithful reflecetion
- Media sebagai filter atau gatekeeper
- Media sebagai guide atau interpreter
Dalam dunia pemberitaan konflik, dikenal dua pendekatan yang sangat berbeda, yaitu jurnalisme damai dan jurnalisme perang. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, cara penyampaian, dan dampak yang sangat kontras terhadap publik.
Jurnalisme damai bertujuan untuk meredakan konflik dan mendukung proses perdamaian. Dalam pendekatan ini, media berperan aktif untuk menenangkan situasi, bukan memperkeruh. Berita-berita yang disampaikan biasanya mengangkat berbagai sudut pandang secara adil, memberikan ruang bagi semua pihak yang terlibat agar suara mereka terdengar. Fokus pemberitaannya adalah pada akar masalah, solusi yang mungkin diambil, dan proses rekonsiliasi atau damai yang sedang atau bisa dijalankan. Judul atau headline dalam jurnalisme damai juga dibuat dengan bahasa yang menenangkan dan mendorong dialog. Misalnya seperti, “Warga Tolak Perang Suku” atau “Minta Penyelesaian Bijak”.
Di sisi lain, jurnalisme perang lebih fokus pada aspek sensasional dari konflik. Tujuan utamanya cenderung untuk menarik perhatian pembaca, walaupun seringkali justru memperbesar konflik. Sudut pandangnya bisa sangat sepihak, atau hanya menyoroti suara dominan saja, sehingga tidak memberi gambaran utuh tentang peristiwa yang terjadi. Isi beritanya kerap berpusat pada kekerasan, korban jiwa, dan kerusakan akibat konflik. Judul-judulnya biasanya provokatif dan dramatis, seperti “95 Rumah Dibakar” atau “2 Orang Tewas di Konflik”. Pendekatan ini juga kadang memuat unsur propaganda atau informasi yang belum terverifikasi, sehingga bisa menyesatkan pembaca dan memperkeruh suasana.
Secara etika, jurnalisme damai berusaha menjunjung tinggi prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Sementara jurnalisme perang, meskipun tidak selalu melanggar etika jurnalistik, cenderung lebih longgar dalam hal keberpihakan dan dramatisasi isi berita.
Komentar
Posting Komentar